Minggu, 27 April 2014

ETIKA PROFESI Pertemuan 4 & 5



Definisi ETIKA:
Menurut kamus adalah sebuah ilmu tentang apa yang baik dan buruk tentang hak dan kewajiban moral, kumpulan asa / nilai yang berkenaan dengan akhlak. Perkembangan etika menurut kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan.





Faktor- Faktor yang mempengaruhi ETIKA :

Kebutuhan Individu

korupsi -> alasan ekonomi
Tidak ada pedoman

Area "abu-abu" sehingga tak ada panduan
Perilaku & Kebiasaan Individu

Kebiasaan yang terakumulasi tak dikoneksi
Lingkungan tak etis Pengaruh dari komunitas

Pengaruh dari komunitas
Perilaku Orang yang ditiru

Efek primordialisme yang kebablasan

SANKSI PELANGGARAN ETIKA

Sosial
skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat dimaafkan
Hukum
skala besar, merugikan hak pihak lain, hukum pidana menempati proiritas utama diikuti oleh hukum pidana

________________________________________________________________________________

ETIKA & TEKNOLOGI


Teknologi adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia untuk memudahkan perkerjaannya
Kehadiran Teknologi membuat manusia "Kehilangan" beberapa sense of human yang alami.
Cara orang berkomunikasi by email or by surat, membawa perusahaan signifikan dalam sapaan / tutur kata.
Orang berzakat dengan sms, implikasi pada silaturahmi yang "tertunda"
Emosi (touch) yang semakin tumpul karena jarak dan waktu semakin bias dalam teknologi informasi

4 ISU ETIKA

Privacy
Data pribadi, intinya mesti kita pahami jangan mengumbar privasi
Accurary
Property
Sebuah informasi mungkin memerlukan harga yang tinggi untuk memprosesnya sekali diproduksi secara digital, maka ia mudah direproduksi
Accessibility
Informasi apa yang diperoleh oleh seseorang / organisasi ? Dalam kondisi seperti apa ?

REFLEKSI

Peranan dari nilai dan moral dalam profesi bidang teknologi informasi

Jika berjalan dengan baik, nilai & norma adalah alat yang paling efektif untuk mencegah dan menggerakkan dalam profesi di bidang TI
Meningkatkan kuantitas peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan sistem untuk menerapkkan ilmu dengan Teknologi Informasi & Komunikasi
Memberikan batasan yang baik berupa aturan terhadap segala sesuatu yang baik & baik

4 pilar ketrampilan hidup



PERSONAL
ada 3 proses
SOS : Sense Of Self (tahu diri)
merupakan tahapan pertama yang harus dimiliki oleh manusia, kebanyakan sense of self ini tidak diketahui seseorang melainkan "sok tahu"

Pilar pertama yaitu Personal Power (kewibawaan / kharisma)
Tidak semua orang yang memiliki Personal power tersebut, ada memang tetapi mungkin hanya beberapa orang saja. Maksud dari Personal power itu memiliki kewibawaan dan kharisma yang besar, orang yang memiliki hal tersebut adalah anugrah dari Tuhan yang tidak bisa dimanipulasi oleh siapapun. Orang tersebut terlebih dahulu sudah mempelajari yang namanya tahu diri, orang yang tahu diri akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi pada intinyaPersonal Power akan bisa diterapkan jika kita memiliki sikap "tahu diri" tersebut.

System Thinking Skill
yaitu keterampilan / kemampuan berpikir sistem, contoh dalam sebuah negara yang maju harus memiliki pendiri sistem ynag baik, baik itu dari segi kualitas maupun kuantitas nya.

Strategi Thinking Skill
yaitu Strategi kemampuan berpikir, contoh kalau sistem sudah berjalan dengan bagus maka strategi dalam berpikir juga akan bagus. bagaimana caranya? dengan menguasai sistem terlebih dahulu kemudian menjalankan strategi yang digunakan agar kemampuan kita menjadi lebih baik.
Apabila pilar 1-3 (internal) sudah berjalan maka anda akan menjadi orang yang hebat.

Relations Planning Skill
yaitu kemampuan perencanaan hubungan contoh dengan membuat sistem pembelajaran misalnya, kita ingin menentukan jadwal kita masing-masing maka kita akan bisa memanage waktu yang kita gunakan agar tidak sia-sia.




Contoh nyata yang bisa kita contoh / kita tiru adalah

Memiliki kepribadian yang baik
Etika minimal terhadap diri kita sendiri bagaimana caranya? yaitu dengan menghargai diri kita sendiri baru bisa menghargai orang lain

3 PILAR KESUKSESAN MANUSIA

Pengertian Etika


Etika adalah ilmu yang membahas perbuatan manusia baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Etika disebut pula akhlak atau disebut pula moral. Apabila disebut “akhlaq” berasal dari bahasa Arab. Apabila disebut moral berarti adat kebiasaan. Istilah moral berasal dari bahsa Latin Mores.

Tujuan mempelajari etika adalah untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Etika biasanya disebut ilmu pengetahuan normatif sebab etika menetapkan ukuran bagi perbuatan manusia dengan penggunaan norma tentang baik dan buruk.


dalam bertika manusia memiliki 3 pilar khusus yaitu:
1. ilmu
2. keahlian
3. etika(sebagai pondasi)


Pengertian
1. ilmu
Ilmu adalah sesuatu yang dapat membuat seseorang untuk lebih mengerti akan suatu hal dengan cara melalui pengajaran. Ilmu bisa diperoleh melaui lingkungan sekitar ataupun di dalam lembaga pendidikan seperti sekolah, akademi, universitas, ataupun lembaga bimbingan. Ilmu dibagi menjadi dua, yaitu ilmu akademik dan ilmu non-akademik. Ilmu akademik adalah ilmu yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan seperti contoh : Matematika, IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), IPS (Ilmu pengetahuan Sosial), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan lain-lain.
Sedangkan Ilmu non-akademik adalah ilmu yang diperoleh dari aktivitas sehari-hari seperti contoh : Ilmu memasak, memperbaiki sesuatu, ilmu cinta, serta masih banyak lagi ilmu yang tidak menggunakan teori yang lainnya. Ilmu akan dapat membuat seseorang lebih mengetahui akan suatu hal. Dengan adanya ilmu juga diharapkan seseorang bisa lebih cerdas dan terampil dalam mengerjakan suatu pekerjaan yang ada.
Dengan adanya globalisasi sangat diperlukan adanya penguasaan terhadap ilmu karena setiap orang akan berlomba-lomba untuk berebut lapangan pekerjaan yang disediakan oleh suatu instansi atau industri. Menuntut ilmu juga wajib bagi setiap umat islam. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hadits dan surat dlam Al Qur’an yang mengatur tentang ilmu. Ilmu ada yang berdampak positif namun juga ada yang berdampak negatif. Semua itu tergantung dari niat seseorang untuk menuntut ilmu dan juga jenis ilmu yang dipelajari, Seperti contoh : Ilmu mencopet akan memberi dampak yang negatif karena ilmu tersebut nantinya digunakan untuk mencopet sehingga dapat merugikan orang lain dan juga diri sendiri.
2.keahlian
Skill dan knowledge adalah hal yang berbeda yang terkadang disama-artikan. Memperoleh dan menggunakan skill dan knowledge-pun berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, saya mengamati bahwa semakin banyak orang dengan pola pikir MENGGAMPANGKAN SESUATU yang mereka lihat padahal mereka sama sekali tidak memahami lebih dalam dari pola pikir mereka tersebut. Mungkin mereka merasa sudah tahu banyak? Tetapi sesungguhnya orang yang menggampangkan sesuatu adalah tanda “malas berpikir dan melakukan”. Hubungannya dengan skill dan knowledge adalah, jika seseorang menggampangkan sesuatu, akan sangat sulit memperoleh skill dan juga cenderung mengabaikan knowledge. Ok, yuk kita masuk ke pembahasan lebih lanjut.
Skill (keahlian)
menurut definisi saya adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang sifatnya spesifik, fokus namun dinamis yang membutuhkan waktu tertentu untuk mempelajarinya dan dapat dibuktikan. Skill apapun dapat dipelajari namun membutuhkan dedikasi yang kuat untuk mempelajari ilmu tersebut seperti perlunya mental positif, semangat motivasi, waktu dan terkadang uang.
Knowledge (pengetahuan)
menurut definisi saya adalah kemampuan seseorang untuk mengenali suatu keadaan berdasarkan persepsi pikirannya. Knowledge seseorang ditentukan oleh apa yang dipelajari dari bahan bacaan, lingkungan pergaulan, pekerjaan dan lain sebagainya. Tapi sayangnya knowledge bukanlah skill jadi seberapa banyak pun Anda tahu, tidak dapat dikatakan Anda mempunyai skill terhadap hal tersebut kecuali Anda take action dan akhirnya menemukan pola tertentu sehingga cara berpikir Anda menjadi sebuah skill. Knowledge itu sendiri sangat mudah didapatkan, apalagi dewasa ini ketika Anda ke internet tinggal searching di google Anda sudah bisa dikatakan dapat mengeksplore knowledge dengan jumlah yang tidak terbatas.
3.etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etikabiasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Istilah lain yang identik denganetika, yaitu:
• •
Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su). Akhlak (Arab), berarti moral, dan etikaberarti ilmu akhlak.

TUJUAN MEMPELAJARI ETIKA
Untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu.

PENGERTIAN BAIK
Sesuatu hal dikatakan baik bila ia mendatangkan rahmat, dan memberikan perasaan senang, atau bahagia (Sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai secara positif)

PENGERTIAN BURUK
Segala yang tercela. Perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku

CARA PENILAIAN BAIK DAN BURUK
Menurut Ajaran Agama, Adat Kebiasaan, Kebahagiaan, Bisikan Hati (Intuisi), Evolusi, Utilitarisme, Paham Eudaemonisme, Aliran Pragmatisme, Aliran Positivisme, Aliran Naturalisme, Aliran Vitalisme, Aliran Idealisme, Aliran Eksistensialisme, Aliran Marxisme, Aliran Komunism.

PENGERTIAN PROFESI
Belum ada kata sepakat mengenai pengertian profesi karena tidak ada standar pekerjaan/tugas yang bagaimanakah yang bisa dikatakan sebagai profesi. Ada yang mengatakan bahwa profesi adalah “jabatan seseorang walau profesi tersebut tidak bersifat komersial”. Secara tradisional ada 4 profesi yang sudah dikenal yaitu kedokteran, hukum, pendidikan, dan kependetaan.

ETIKA YANG BENAR DALAM MENUNTUT ILMU
1. Orang yang selalu sabar dan tabah dalam menghadapi semua pelajaran, maka dalam
jiwa Orang tersebut akan tertanam jiwa yang sabar dan tabah menghadapi segala
persoalan yang dihadapinya.
2. Orang yang hormat dan taat pada perintah dan nasehat guru, dalam jiwanya akan
tertanam rasa hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
3. Orang yang tidak sombong sama siapapun dan ilmunya.
4. Orang tidak akan buruk sangka terhadap perbuatan orang lain termasuk orang yang
lebih tua.


PROFESIONALISME
Biasanya dipahami sebagai suatu kualitas yang wajib dipunyai oleh setiap eksekutif yang baik. Ciri-ciri profesionalisme:
1. Punya ketrampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidang tadi
2. Punya ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu masalah dan peka di dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan
3. Punya sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya
4. Punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya.

Selfie (Tanda Orang Kurang Percaya Diri)

Fenomena Selfie memang menarik untuk diikuti. Tren ini tak hanya menjalar ke pengguna internet dewasa, ABG, atau orang tua, bahkan menjalar ke mereka yang tidak mengenal status dan golongan.

Bahkan, Obama pun lakukan foto Selfie bersama PM Inggris dan PM Denmark. Di dalam negeri, Presiden SBY juga lakukan itu bersama PM Malaysia. Selfie benar-benar menjangkit pengguna internet untuk bertindak narsis.


Menurut sejarah, mengabadikan diri sendiri dengan perangkat elektronik atau dalam bahasa Inggris dinamakan self-portrait atau disingkat selfie dilakukan pertama kalo oleh seseorang bernama Robert Cornelius pada tahun 1839.

Ketika era kamera polaroid sedang menjadi salah satu tren di tahun 70an, seorang bernama Andy Warhol juga pernah melakukan selfie dan hal tersebut tercatat sebagai selfie kedua dalam sejarah.

Kini, di era teknologi serba maju, perangkat hi-tech beredar di mana-mana sekaligus portable device dengan fitur kamera seperti smartphone, phablet dan tablet menjadi satu hal yang umum, aksi selfie ini amat sering dijumpai.


Lalu, kenapa kebanyakan dari kita, khususnya pengguna media sosial suka memotret diri sendiri dan membaginya ke orang lain? Pertanyaan ini coba dijawab oleh ahli neurosains dari University College London, James Kilner.

Menurut kamus kesehatan, neurosains sendiri adalah studi tentang sistem saraf, termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman, serta kontrol gerakan dan perilaku lainnya.

Mengutip laman BBC, Rabu (11/3/2014), salah satu faktor yang membuat seseorang suka Selfie adalah rasa penasarannya terhadap bentuk wajah diri sendiri dengan berbagai ekspresi berbeda. Dalam interaksi sosial sehari-hari, kita banyak melihat dan menginterpretasikan wajah serta ekspresi wajah orang lain. Namun demikian, kita jarang melihat wajah sendiri.

Terlebih dengan dukungan perangkat mobile berkamera dan media sosial, fenomena Selfie kian meluas. Bahkan saking seringnya digunakan, sampai-sampai kata Selfie dimasukkan ke dalam kamus bahasa Inggris Oxford pada November 2013.

"Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya," ujar Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media, seperti dikutip oleh Guardian (14/07).

Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai' lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.

Walaupun tidak hanya Hardey yang mengatakan bahwa selfie merupakan bentuk dari ingin diakui atau dapat disebut sebagai tanda kurang percaya terhadap diri sendiri karena banyak peneliti lain yang juga mengatakan hal serupa, namun tidak sedikit orang yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya sekadar ingin tenar dan tidak percaya diri.

Menurut salah seorang wanita bernama Rebecca Brown (23) mengatakan bahwa dia melakukan selfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya.

Terlepas dari pendapat para ahli atau orang-orang yang sering melakukan selfie, bagaimana pendapat Anda dari fenomena selfie ini? Apakah selfie termasuk narsis dan kurang percaya diri ataukah hanya untuk eksplorasi diri?